Pesantren Tokoh

Biografi KH. Ali Hasyim, Perintis Ma’had Ali Hasyim Martapura

KH Ali Hasyim, atau lebih akrab dipanggil Mbah Ngali, adalah kyai kharismatik asal Nganjuk, Jawa Timur yang hijrah ke Lampung Tengah tahun 1955. Daerah yang pertama kali beliau tuju adalah desa Banjarsari Metro. Setahun bermukim di Banjarsari, beliau kemudian pindah ke Sido Rahayu Punggur dan menetap dusun ini hingga akhir hayatnya.

KH Ali Hasyim lahir dan besar di desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Menurut beberapa riwayat, beliau lahir pada hari Sabtu Wage, 5 Oktober 1901. Ia adalah putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan Mbah Hasyim dan Siti Khofiyah.

Mengenai usianya, terdapat beberapa versi dari keterangan narasumber. Sebagian berpendapat usia beliau mencapai usia 105 tahun; dalam keterangan lain, KH. Ali Hasyim dikatakan sebaya dengan Presiden Soekarno.

Hijrah ke Lampung

KH Ali Hasyim hijrah ke Lampung ± tahun 1955. Daerah yang pertama kali dituju adalah desa Banjarsari Metro. Setelah menetap di desa ini selama satu tahun, kemudian beliau memutuskan untuk berpindah ke kampung Sidorahayu, Sidomulyo, Punggur, Lampung Tengah. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, beliau membuat usaha home industry yakni pembuatan tempe.

Pada masa G 30S PKI, dimana suasana yang sangat amat mencekam sehingga membuat masyarakat sangat membutuhkan perlindungan para alim ulama, KH Ali Hasyim adalah salah satu ulama yang menjadi pelindung msayarakat. Saat itu, beliau cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, beliau pernah ditangkap aparat saat memimpin pembacaan Shalawat Nariyah.

Setelah peristiwa itu, beliau kembali ke pulau Jawa untuk menambah bekal ilmunya di pondok pesantren Baran Kediri. Saat itu, pondok pesantren Baran diasuh oleh KH Umar Sofyan. Niat awalnya, beliau hanya ingin menetap selama 10 hari disini, tetapi kemudian menjadi 40 hari. Beliau diminta KH Umar Sofyan untuk memperdalam ilmu thoriqoh hingga diangkat sebagai mursyid.

Setelah selesai, ia kembali ke Lampung sekitar tahun 1970-an. Saat itu kegiatan dakwah dan pesantren dipimpin oleh KH Abdillah. Setelah KH Abdillah wafat, KH Ali Hasyim menggantikan posisinya.

Keluarga dan Pendidikan

Latar belakang pendidikan KH Ali Hasyim, ia menimba ilmu agama Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Di sini, selain menimba ilmu, beliau dipercaya menangani berbagai urusan dan membantu ndalem (kediaman kiai pondok).

Ketika pulang kampung dari pondok, tak lama kemudian beliau membina rumah tangga dengan menikahi seorang wanita bernama Siti Khalimah.

Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, beliau berjualan bumbu dapur yang dibawa dari desanya untuk dijual ke kota Surabaya. Perjalanan menuju Surabaya ia tempuh dengan perahu rakit bambu melalui sungai Brantas. Perjalanan melewati sungai ini biasanya ditempuh selama tiga hari tiga malam, bahkan bisa lebih.

Selama membina rumah tangga dengan Ibu Nyai Siti Khalimah, KH. Ali Hasyim dikaruniai 8 anak, 3 putra dan 5 putri. Mereka adalah:

  1. Siti Komariyah (lahir ± 1931)
  2. Siti Mutamimmah (lahir ± 1936)
  3. Khoiriyah (lahir ± 1940)
  4. Haris (lahir ± 1943)
  5. Maslikhatun (lahir ± 1946)
  6. Wasilah (lahir ± 1950)
  7. Habib (lahir ± 1954)
  8. Abdul Hamid (lahir ± 1957)

Selain menjadi Mursyid Thoriqoh Al-Kholidiyah An-Naqsyabandiyah di provinsi Lampung, beliau merintis berdirinya Pondok Pesantren Baitul Mustaqim, Sidorahayu Punggur dan Ma’had Ali Hasyim Lutih Negeri Pakuan, Martapura, OKU Timur.

Awal Mula Ma’had Ali Hasyim

KH. Ali Hasyim merintis berdirinya Ma’had Ali Hasyim pada sekitar tahun 1994, bersama putra beliau yang bernama Abdul Hamid. Kiai Abdul Hamid ini merupakan alumni pondok pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Pada awalnya, pesantren Ma’had Ali Hasyim bernama Hidayatul Mubtadi’ien. Nama ini diambil dari nama pondok pesantren Lirboyo yang merupakan almamater Kiai Abdul Hamid.

Nama tersebut kemudian berganti menjadi Ma’had Ali Ahsyim seiring dengan keluarnya Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 511 Tahun 2021 yang merujuk pada UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2015 tentang Kementrian Agama serta Peraturan kementrian Agama No. 42 tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Agama, maka nama pesantren Hidayatul Mubtadi’ien diubah menjadi Ma’had Ali Hasyim.

Perubahan nama tersebut dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan pendaftaran lembaga pondok pesantren pada EMIS (Education Management Information System) yaitu Dashboard Informasi Data Pokok Pendidikan Islam, yang terdiri atas Data Madrasah, Data PTKI, Data Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dan Data PAI.

EMIS tersebut berfungsi untuk melakukan pendataan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yang meliputi Pondok Pesantren, Diniyah Takmiliyah, Lembaga Pendidikan Al Qur’an (LPQ), Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Muadalah, PPS Wajar Dikdas dan Paket yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren.

Saat awal merintis berdirinya pesantren dan pusat dakwah Ma’had Ali Hasyim di kampung Lutih, Negeri Pakuan, kondisi kampung ini masih dipenuhi hutan lebat dengan pohon-pohon yang besar. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, beliau dan putranya membuat arang dari kayu-kayu hutan yang kemudian dijual ke pasar.

KH Ali Hasyim Wafat

KH Ali Hasyim wafat pada tanggal 14 Februari 2009. Rasa kehilangan yang sangat mendalam dirasakan oleh dzuriyah beliau, santri, jamaah thoriqoh dan masyarakat luas, khususnya masyarakat Sidorahayu. Mereka semua merasa kehilangan orangtua, guru, panutan atau pembimbing yang sangat mereka cintai.

أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِبَرَكَاتِهِ وَأَسْرَارِهِ وَعُلُوْمِهِ فِي الدُّنْياَ وَالآخِرَةِ

Haul atas wafatnya diadakan setiap tahun di Pondok Pesantren Baitul Mustaqim, Sidorahayu Sidomulyo, Punggur. Lampung Tengah dan Ma’had Ali Hayim, Lutih Negeri Pakuan, BP Peliung, Martapura OKU Timur, Sumatera Selatan.

Haul wafatnya KH. Ali Hasyim selalu dihadiri ribuan jamaah thoriqoh, santri dan murid beliau. Makam yang berada di kampung Sidorahayu, di belakang masjid Baitul Mustaqim, tidak pernah sepi sepanjang tahun diziarahi masyarakat yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Karakternya yang sabar, tekun dan merangkul semua kalangan menjadikan kiprah KH. Ali Hasyim dalam dakwah Islam berjalan dengan baik dan menjadi inspirasi serta suri tauladan umat.

Saat ini, pondok pesantren yang beliau rintis, terutama Pondok Pesantren Baitul Mustaqim yang berlokasi di Punggur Lampung Tengah, sudah berkembang pesat dengan membuka berbagai program dan jenjang pendidikan, baik formal maupun non formal. Jumlah murid atau santri pesulukan Thaoriqohnya juga sudah ribuan dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. (PL/da)

Dibaca 815 x, Total 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published.