Amalan Ibadah Bahtsul Masail

Buya Ar-Razi Hasyim: Amaliyah Yasinan Ada Hadits dan Dalilnya

Ulama Muda Nahdlatul Ulama Buya Dr. Ar-Razi Hasyim menegaskan amaliyah yasinan dan khataman bukan dibuat oleh Nahdlatul Ulama. NU hanya melestarikan.

“Amalan yasinan khataman dan ayat kursi itu amalan rasul, bukan buatan NU, itu buatan Ibnu Umar, minimal kalo ga mau sebut nabi. Ini riwayat bukan NU yang buat, sebab hadis ini sudah ada sebelum NU lahir,” ujarnya, (8/8/21).

Menurutnya, orang NU hanya menikmati fasilitas, yang sudah ditulis para ulama dipakai oleh mereka. Tidak ada urusannya antara NU dengan yasinan. NU hanya melestarikan amalan-amalan tersebut. Riwayat ini ada di kitab-kitab hadis.

“Di Yaman terdapat amalan hadroh, dan orang yang melakukan bukan NU. Di sini yang melestarikan amalan nabi itu ulama Nahdliyin, makanya saya meskipun ga masuk organisasi NU saya sangat mendukung amalan itu. Kenapa? kalau ga NU siapa lagi yang melestarikan. Muhamdiyah punya tugas lain, bikin RS universitaa di mana-mana. Jadi bagi tugas aja. Berkat di masyarakat NU, di kampus Muhammadiyah,” imbuh ya.

Oleh karena itu, beliau menilai, jika ada sebagian orang yang sentimen pada NU, itu hal yang tidak bener. Jika ingin menilai suatu amalan, tidak boleh karena suatu organisasi, tapi karena dalil-dalilnya.

Lebih lanjut, beliau menuturkan, meskipun amaliyah yasinan dan khataman tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad Saw, belum tentu amalan tersebut tidak ada. Harus melihat sahabat dahulu, apakah ada meriwayatkan atau tidak.

“Yang menyebutkan kalau kita ke kubur mendoakan oramg mati baca alim lam mim itu ada, yaitu Ibnu Qoyyim. Ibnu Qoyyim mengumpulkan dari banyak riwayat bahwa Ibnu Umar berpesan kalo saya mati bacakan kepada saya Al-Fatihah alim lam mim dan seterusnya. Ini pesan sahabat,” ujar beliau dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Selain itu, ada dua imam yang meriwayatkan hadis yasinan dan khataman. Pertama, riwayat Imam Abu Dawut dan Imam Ibnu Majah. Imam Abu Dawud meriwayatkan, “Bacalah yasin untuk orang yang sakaratul maut, mati, dan akan mati.”

Imam Abu Dawud kemudian menulis hadis tersebut di kitab yang berjudul shohih. Dan dalam hal ini, Abu Dawud tidak memberi komentar.

“Abu Dawud kalo tidak memberi komentar berarti hadisnya bagus. Istilahnya dahulu itu belum ada Hasan, adanya Sholih. Hadis kalo Imam Abu Dawud tidak komentar, maka bagus. Maka hadis yasinan bagus,” jelasnya.

Kedua yaitu, Imam Ibnu Hiban yang menulis kitab judulnya Shohih Ibnu Hiban. Beliau menulis sekaligus menilai bahwa hadis itu shohih.

“Berarti minimal ada dua imam yang mengatakan hadis ini bagus. Kalo ada imam dulu bilang shohih, imam bilang sekarang bilang ga shohih, kita ikut yang mana? Ikut yang dulu aja ya. Imam Abu Dawud imam salaf tidak mempermasalahkan hadis yasinan,” pungkasnya. (pl/dnu)

Dibaca 705 x, Total 6 x

Leave a Reply

Your email address will not be published.